Dunia literasi di lingkungan sekolah menengah atas sering kali dipandang sebagai sesuatu yang kering dan membosankan oleh sebagian besar remaja. Namun, siswa di SMA Sutomo 1 berhasil mematahkan persepsi tersebut dengan cara yang sangat artistik. Mereka melakukan dramatisasi terhadap karya-karya besar dari para sastrawan legendaris Indonesia. Dengan mengubah bait-bait puisi yang statis menjadi sebuah pertunjukan teater yang dinamis, mereka berhasil menghidupkan kembali roh sastra di tengah generasi muda.
Langkah ini bukanlah tugas sekolah biasa. Ini adalah sebuah upaya untuk mengapresiasi kekayaan intelektual bangsa. Siswa dituntut untuk memahami kedalaman makna setiap kata yang dipilih oleh para penyair besar, kemudian menuangkannya ke dalam gerak, suara, dan penataan panggung yang sesuai. Proses ini memaksa para siswa untuk berinteraksi langsung dengan naskah-naskah berat, yang secara tidak langsung meningkatkan kemampuan literasi serta daya kritis mereka dalam mengolah teks menjadi karya seni pertunjukan yang utuh.
Ketika puisi didramatisasi, setiap metafora tidak lagi hanya menjadi deretan kata di atas kertas, melainkan berubah menjadi visualisasi yang kuat di atas panggung. Misalnya, sebuah puisi tentang perjuangan yang tadinya hanya bisa dibayangkan, kini hadir melalui gestur pemeran yang penuh penjiwaan dan iringan musik yang mencekam. Inilah bentuk nyata dari karya yang berhasil menjembatani masa lalu dengan masa kini. Para siswa mampu menerjemahkan bahasa puitis yang kompleks ke dalam bahasa visual yang mudah dicerna, tanpa harus mengurangi esensi pesan yang ingin disampaikan oleh penulis aslinya.
Dalam proses penggarapan, SMA Sutomo 1 melibatkan kolaborasi lintas minat. Siswa yang memiliki ketertarikan pada sastra berdiskusi dengan tim tata artistik untuk menentukan nuansa panggung yang paling pas dengan tema puisi. Diskusi-diskusi inilah yang memperkaya wawasan siswa. Mereka tidak hanya belajar menjadi aktor, tetapi juga belajar menjadi kurator seni yang mampu membedah sebuah karya besar dan menyajikannya kembali dengan interpretasi yang segar. Keterampilan ini sangat relevan untuk mengasah kepekaan estetika di era yang serba instan saat ini.
Dampak positif dari kegiatan ini sangat terasa. Minat siswa terhadap dunia sastra meningkat drastis. Perpustakaan sekolah kini lebih sering dikunjungi oleh siswa yang ingin mencari referensi puisi untuk proyek selanjutnya. Selain itu, pementasan yang mereka gelar secara internal maupun terbuka mendapatkan apresiasi tinggi dari para guru dan orang tua. Mereka sadar bahwa pendidikan bukan hanya tentang angka di rapor, tetapi juga tentang bagaimana seorang individu mampu mengapresiasi dan melestarikan budaya literasi bangsa.