Di tengah klaim sebagai lembaga pendidikan inklusif, isu Rasisme Terselubung masih sering ditemukan dalam interaksi harian di sekolah multikultural seperti SMA Sutomo 1 Medan dan sekitarnya. Fenomena ini tidak selalu muncul dalam bentuk kekerasan fisik yang terbuka, melainkan melalui mikro-agresi, pengelompokan siswa berdasarkan etnis tertentu, hingga ejekan halus yang menyerang identitas budaya. Konflik etnis yang terpendam ini menjadi bom waktu yang dapat merusak kerukunan antar siswa dan menciptakan lingkungan belajar yang penuh tekanan bagi kelompok minoritas yang merasa tidak diterima sepenuhnya.
Bentuk Rasisme Terselubung sering kali termanifestasi dalam pemilihan teman satu kelompok atau dalam pemilihan pengurus organisasi sekolah, di mana dominasi etnis tertentu secara sengaja atau tidak sengaja menyingkirkan kelompok lain. Bahasa-bahasa daerah yang digunakan sebagai alat untuk mengucilkan mereka yang tidak paham, serta pelabelan negatif terhadap karakter suku tertentu, masih menjadi praktik yang lazim ditemukan. Hal ini menciptakan sekat-sekat sosial yang tebal di dalam kantin maupun di dalam kelas, menghambat proses asimilasi budaya yang seharusnya menjadi kekuatan utama dari sebuah sekolah multikultural.
Dampak dari Rasisme Terselubung sangat berbahaya bagi perkembangan identitas siswa. Remaja yang menjadi korban sering kali merasa rendah diri, mengalami krisis identitas, hingga menarik diri dari aktivitas sekolah. Di sisi lain, pelaku rasisme yang tidak pernah ditegur akan membawa pola pikir diskriminatif ini hingga ke dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat kelak. Konflik etnis yang bermula dari hal-hal kecil di sekolah dapat memicu ketegangan sosial yang lebih luas jika tidak segera ditangani dengan pendekatan edukasi keberagaman yang mendalam dan tulus dari pihak manajemen sekolah.
Sekolah multikultural harus lebih proaktif dalam mendeteksi dan menghentikan Rasisme Terselubung melalui program literasi budaya yang berkelanjutan. Guru-guru harus dilatih untuk memiliki sensitivitas budaya sehingga bisa menjadi penengah yang adil saat terjadi gesekan antar etnis. Kurikulum sekolah perlu memberikan ruang bagi perayaan identitas seluruh siswa tanpa terkecuali, guna menanamkan pemahaman bahwa perbedaan adalah kekayaan, bukan ancaman. Sanksi tegas juga harus diterapkan bagi setiap tindakan diskriminatif agar siswa memahami bahwa sekolah memiliki kebijakan nol toleransi terhadap segala bentuk rasisme.