Stunting, kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), bukan hanya masalah kesehatan fisik. Lebih jauh, stunting memiliki dampak gizi buruk yang serius terhadap perkembangan kognitif dan prestasi belajar anak. Anak-anak yang mengalami stunting cenderung memiliki kapasitas belajar yang lebih rendah, kesulitan berkonsentrasi, dan daya tangkap yang lambat, sehingga menghambat potensi mereka di sekolah dan di masa depan.
Salah satu dampak gizi buruk paling signifikan dari stunting adalah terganggunya perkembangan otak pada masa-masa krusial. Kekurangan nutrisi penting seperti protein, zat besi, yodium, dan vitamin selama kehamilan hingga usia dua tahun dapat menghambat pembentukan sel-sel otak, koneksi saraf, dan fungsi kognitif secara keseluruhan. Akibatnya, anak-anak yang stunting seringkali menunjukkan nilai IQ yang lebih rendah, kesulitan dalam memahami konsep pelajaran, dan lambat dalam memproses informasi dibandingkan dengan teman sebaya yang gizinya terpenuhi. Hal ini tentu saja menjadi dampak gizi buruk yang merugikan prestasi akademik mereka.
Dampak gizi buruk ini tidak hanya berhenti pada kemampuan kognitif. Anak-anak stunting juga cenderung lebih mudah sakit, sering absen dari sekolah, dan memiliki energi yang lebih rendah untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar. Daya tahan tubuh yang lemah membuat mereka rentan terhadap infeksi, yang pada gilirannya semakin memperburuk status gizi dan siklus belajar mereka. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada awal tahun 2025 di lima provinsi dengan prevalensi stunting tinggi, menunjukkan korelasi kuat antara kejadian stunting dengan tingkat kehadiran siswa di sekolah.
Untuk mengatasi dampak gizi buruk stunting pada pendidikan, pendekatan multisektoral sangat diperlukan. Intervensi harus dimulai sejak masa kehamilan dan terus berlanjut hingga anak mencapai usia sekolah. Program gizi seimbang, suplementasi vitamin dan mineral, edukasi pola asuh yang benar bagi orang tua, serta sanitasi yang layak adalah langkah-langkah penting. Di tingkat sekolah, program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan edukasi gizi di kalangan siswa dapat membantu memperbaiki status gizi mereka. Pada Senin, 3 Juni 2025, Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, meluncurkan program bersama “Sekolah Peduli Gizi” untuk mengedukasi siswa dan orang tua tentang pentingnya nutrisi bagi prestasi belajar.
Dengan mengatasi stunting dan dampak gizi buruk yang ditimbulkannya, kita tidak hanya membangun generasi yang lebih sehat secara fisik, tetapi juga generasi yang lebih cerdas, produktif, dan mampu bersaing, sehingga dapat memutus mata rantai kemiskinan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia secara keseluruhan.